“Ini
malam sudah tahu seperti apa bagaimana musti berlarut. Tapi kenapa kau masih
saja menanya soal pekat yang diumpat gelap?” Tanya diri pada jiwa.
“Hai
diri, jiwa hanya ingin menikmati bagaimana ini malam. Kau tidak lihat bagaimana
di luar sana. Jauh, teramat jauh dengan duniamu yang selalu dikungkung malam.
Mereka begitu menikmatinya. Menjilati setiap serpihan malam di bawah
lampu-lampu kota barang berselimut angin. Dan kau, kau selalu beradu dengan malam
demi malam berdindingkan buku-buku, internet, musik klasik, hingga acara macam kocok
perut di balik layar tancap. Bodoh, kau tak ingin merasakan kebebasan
macam itu, hah? Memberi tema pada malam-malam minggumu yang tak pernah berjudul..” Gerutu jiwa pada diri.