Dulu,
di tiap kesempatan cutinya, pada jum’at siang, saya biasa dimintainya
menyeterika pakaian ibadahnya. Dia selalu memintaku merapikan pakaiannya,
terutama pada lipatan-lipatan tepi pada sarung, baju taqwa, bahkan hingga kaos
dalamannya, dan memintanya untuk digantungkan pada kapstok pakaian. Sementara
menunggu prosesnya, dia menyegerakan diri untuk mandi dan keramas. Dia nampak
gagah dan segar dengan baju taqwa yang sudah saya rapikan, rambutnya hitam dan
gersang sedikit kebasahan, aroma parfumnya membekas di ruangan meski dia sudah
meninggalkan rumah dan berjalan kaki menuju masjid.





.jpg)




