Tampilkan postingan dengan label Bapak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bapak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2013

Happy Mubarak Friday

14 Komentar

Dulu, di tiap kesempatan cutinya, pada jum’at siang, saya biasa dimintainya menyeterika pakaian ibadahnya. Dia selalu memintaku merapikan pakaiannya, terutama pada lipatan-lipatan tepi pada sarung, baju taqwa, bahkan hingga kaos dalamannya, dan memintanya untuk digantungkan pada kapstok pakaian. Sementara menunggu prosesnya, dia menyegerakan diri untuk mandi dan keramas. Dia nampak gagah dan segar dengan baju taqwa yang sudah saya rapikan, rambutnya hitam dan gersang sedikit kebasahan, aroma parfumnya membekas di ruangan meski dia sudah meninggalkan rumah dan berjalan kaki menuju masjid.

Rabu, 07 Agustus 2013

Malam Takbiran Kali Ini, Kembali Ku Merindukanmu, Wahai Bapak!

2 Komentar

“Bahwa hidup itu sekedar bertamu, dan ruh adalah pinjaman. Tamu pastilah akan pulang, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan..”
-Rose Dian Jaianti-


"Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar..
Laa Ilaaha Ilallahu Wallahu Akbar..
Allahu Akbar Wa Lillahil-hamd.."

Suara takbiran telah di kumandangkan oleh seluruh umat muslim di seluruh penjuru belahan bumi. Tak terasa sudah sebulan kita telah menunaikan ibadah puasa di bulan suci ramadhan. Melakukan berbagai kewajiban dan sunah-sunah mulia-Nya yang tidak biasa kita lakukan di bulan-bulan biasa, seperti; puasa, membayar zakat, shalat tarawih, tadarusan, sahur, dan lain sebagainya. Dan kini, hari kemenangan telah tiba. Ada perasaan haru, bahagia, juga bercampur sedikit sedih didalamnya.

Rabu, 03 Juli 2013

Mendoakanmu adalah caraku memelukmu dari jauh, Bapak!

3 Komentar

"Sebab hanya dengan doa adalah salah satu bentuk bakti seorang anak terhadap orang tuanya yang sudah tidak ada lagi di semesta alam ini. Karena dengan mendoakanmu adalah caraku memelukmu dari jauh, Bapak.."
-Rose Dian Jaianti-

Tak seperti biasanya, sekilas kau hadir dalam mimpi. Sudah lama memang kau tak pernah menyapaku dalam bunga tidur. Begitu juga dengan ku, sudah cukup lama tak merengek karena rerindu. Aku yang terlalu sibuk dengan duniaku sudah mulai lupa bagaimana musti membasahi pipi ini karena kenangan kita. Aku yang terlalu sibuk dengan pergerakanku untuk membersamai semangat yang kau wariskan, sudah (merasa) lupa untuk mengembik karena kesakitan. Aku memang lupa. Atau lebih tepatnya sengaja untuk menjadi seorang pelupa. Dan aku berhasil. Berhasil untuk selalu tersenyum, tertawa, dan bergerak semampu tubuh ini digerakkan untuk menghidupi banyak hal agar kau disana merasa bahagia.

Senin, 03 Juni 2013

Manusia Laba-Laba dan Gradasi Langit Senja

2 Komentar

"Bahwa senyuman terakhir di ujung usiamu adalah obat dari segala obat yang ditakdirkan-Nya sebagai pemulih untuk membersamai semangat yang kau wariskan"
-Rose Dian Jaianti-

Berada di atas genteng rumah adalah kebiasaan yang kerap dilakukan pada saat sore hari. Ritual ini biasa saya lakukan hanya untuk menikmati guratan kuas Tuhan pada kanvas-Nya yang menghasilkan warna jingga kemerahan. Ya, menikmati senja sambil berdialektik pada semesta alam. Mengenai apa saja, apa saja yang berkecamuk dalam benak. Mungkin hanya udara, angin, awan, dan langit yang akan mengerti perdebatan hangat ini. Juga burung-burung gereja yang biasa melintas di depan mata yang seakan memamerkan kemesraan mereka. Ini adalah salah satu ritual ‘asyik’ yang saya sukai. Menikmati kejujuran alam, saat manusia-manusia bertopeng menekuk wajahnya menjadi ratusan.

Rabu, 05 Desember 2012

Engkau lah Cinta Pertamaku, Wahai Bapak!

8 Komentar

"Bahwa suatu kepergian adalah pelajaran hidup tanpa kamus.."
– Rose Dian Jaianti –

Pagi ini matahari nampak malu mengkiblatkan wajahnya, karena semalam hujan menamukan dirinya sepanjang petang dan berhenti saat subuh menjelang. Seperti biasa, kicau burung tetangga terdengar nyaring saling bersautan, seakan mengigil karena kedinginan. Kali ini saya juga mengamini apa yang dialami burung-burung itu, bahwa memang cuaca di luar cukup dingin pagi tadi. Juga semerbak bau tanah basah yang membuatku sadar betapa murahnya nikmat yang selalu diberikan-Nya yang tak terhingga ini. Dan tiba-tiba saja perempuan mulia dalam hidup yang menjadikan ku manusia berseru lembut, “Hari ini tanggal 5 Desember, tepat setahun yang lalu bapakmu meninggal”. –jleeebb!– Sontak saya tercengang seketika. Bagaimana tidak, tanggal itu merupakan bagian dari hari bersejarah dalam hidup.

Hello!

Kamu Pengunjung Ke :

Rose Dian Jaianti. Diberdayakan oleh Blogger.

Paling Sering Dilihat

Welcome..

Hai, Selamat datang!

Selamat menikmati beragam gradasi warna yang dipancarkan oleh langit..


Resapi warnanya, nikmati pesonanya, dan tersenyumlah! :)

Selamat menikmati..
*\(^O^)/*

 

Gradasi Senyum Langit Design by Insight © 2009