Tampilkan postingan dengan label Dialektik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialektik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2013

Pesan Kepada Langit Tentang Manusia Kepiting

20 Komentar

Hai langit, apa kabar?

Lama tak menyapamu disetiap jengkal jejak peradaban.

Maaf, bumi akhir-akhir ini selalu membuatku sibuk diri hingga terlalu lama menjedamu. Kau tahu, sudah lama rasanya ku merindukan senjamu. Apa kabar dengannya? Masihkah sama pada pertengahan Oktober bulan lalu? Ah, sudah dua bulan rupanya aku tak menikmatinya.

Minggu, 15 September 2013

Di Suatu Tempat

11 Komentar

Di suatu tempat,
entah dimana, di dunia
Seseorang menunggumu, berdoa
seperti doa yang biasa engkau ucapkan sehabis shalat
Pada suatu saat, entah apabila, di dunia
Seseorang merindukanmu, berjaga-jaga
seperti malam-malammu yang berlalu sangat lambat
Seseorang menunggumu, merindu, berjaga dan berdoa
di suatu tempat, pada setiap
Seperti engkau, selalu

Jumat, 12 Juli 2013

Bukan Sekedar Petasan

16 Komentar

Hei, Apapun pilihanmu, yang terpenting kau musti punya sikap, komiten dan tanggung jawab atas apa-apa yang sudah terpilah. Termasuk konsekuensinya. Dan yang terpenting, kau musti jujur bahwa semua yang kau lakukan adalah dengan niat yang benar, tujuan yang baik, dan dengan cara yang baik pula.

Minggu, 07 Juli 2013

Cukuplah Engkau saja!

8 Komentar

        Jiwa pernah bercerita kepada diri bahwa bukan surga yang dia pinta. Bukan berarti dia tidak tertarik pada surga-Nya serta dengan segala kenikmatan maha dahsyat yang ada di dalamnya. Hanya saja jiwa tidak mampu membayangkan tentang bagaimana keagungan dan indahnya wujud surga yang tidak ada duanya di semesta alam ini. Jiwa tidak sanggup menerka-nerka segala macam bentuk kenikmatan atas pemenuhan janji-janji-Nya terhadap keikhlasan taqwa para hamba sahaya. Bukan surga tujuannya. Bukan.

Sabtu, 06 Juli 2013

Dialektik Malam

17 Komentar

“Ini malam sudah tahu seperti apa bagaimana musti berlarut. Tapi kenapa kau masih saja menanya soal pekat yang diumpat gelap?” Tanya diri pada jiwa.

“Hai diri, jiwa hanya ingin menikmati bagaimana ini malam. Kau tidak lihat bagaimana di luar sana. Jauh, teramat jauh dengan duniamu yang selalu dikungkung malam. Mereka begitu menikmatinya. Menjilati setiap serpihan malam di bawah lampu-lampu kota barang berselimut angin. Dan kau, kau selalu beradu dengan malam demi malam berdindingkan buku-buku, internet, musik klasik, hingga acara macam kocok perut di balik layar tancap. Bodoh, kau tak ingin merasakan kebebasan macam itu, hah? Memberi tema pada malam-malam minggumu yang tak pernah berjudul..” Gerutu jiwa pada diri.

Hello!

Kamu Pengunjung Ke :

Rose Dian Jaianti. Diberdayakan oleh Blogger.

Paling Sering Dilihat

Welcome..

Hai, Selamat datang!

Selamat menikmati beragam gradasi warna yang dipancarkan oleh langit..


Resapi warnanya, nikmati pesonanya, dan tersenyumlah! :)

Selamat menikmati..
*\(^O^)/*

 

Gradasi Senyum Langit Design by Insight © 2009